www.transriau.com
19:36 WIB - JNE Manfaatkan Kekuatan Cloud untuk Mencapai Visinya dalam Ekonomi Baru | 22:42 WIB - Gubri Terima DIPA Tahun 2020 Sebesar Rp25,2 Triliun | 09:32 WIB - DPMPTSP Kampar Berdayakan UMKM Melalui Kemitraan Perusahaan guna mendorong Investasi Daerah | 19:18 WIB - Sengketa Pilkades Desa Nipah Sendanu Resmi Didaftarkan ke Pengadilan TUN Pekanbaru | 15:52 WIB - Tiga Negara Meriahkan Festival Bumi Sri Gemilang 2019 | 11:45 WIB - Bupati HM.Wardan Ikuti Rakoornas Forkopimda Se-Indonesia
  Senin, 18 November 2019 | Jam Digital
Follow:
 
Oleh: Makmur Hendrik
Membangun "Monumen Republik" di Siak
Selasa, 25/08/2015 - 01:41:27 WIB

MONUMEN, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi kedua (cetakan I tahun1991), adalah bangunan tempat yang mempunyai nilai bersejarah yang penting dan karena itu dipelihara dan dilindungi negara. Menurut Wikipedia, monumen adalah bangunan yang dibuat untuk memperingati seseorang atau peristiwa yang dianggap penting oleh suatu kelompok sosial sebagai bagian dari peringatan kejadian pada masa lalu

Dengan landasan kedua alasan itu maka pemerintah dan atau masyarakat Indonesia membangun monumen. Saat ini, paling tidak, ada 22 Monumen yang dibangun di Indonesia. Beberapa diantaranya adalah Monumen/Patung Proklamator Soekarno- Hatta, di Jalan Proklamasi Jakarta

Kemudian ada Monumen Nasional di depan Istana Merdeka, Jakarta. Di dalamnya terdapat diorama (antara lain) perjuangan kemerdekaan, peristiwa Proklamasi dan pembunuhan 7 Jenderal dalam peristiwa G30S/PKI. Lalu ada Monumen Jogya Kembali di Jogya. Di dalamnya ada diorama peristiwa 'Serangan Umum 1 Maret 1949' yang dipimpin Soeharto. Setelah serangan itu, lewat serangkaian perundingan, akhirnya tentara Belanda ditarik pada tanggal 12 Juli 1949, dan 'Jogya kembali' ke tangan Republik.

Ada pula Monumen Panca Sila Sakti di Lobang Buaya, Jakarta. Menampilkan patung tujuh jenderakl yang dibunuh di lokasi itu pada peristiwa G30S/PKI. Sementara Monumen Garuda Panca Sila terdapat di Blora. Monumen itu untuk mengenang perlawanan rakyat Blor terhadap tentara Belanda pada tahun 1948-1949

Berpedoman kepada 22 Monumen di Indonesia tersebut, bentuk bangunan Monumen ada 3 (tiga) macam. Pertama bangunan besar yang di dalamnya ada sejumlah ruangan, seperti Monumen Nasional dan Monumen Jogya Kembali. Kedua bisa dalam bentuk patung sebagaimana Monumen Proklamator Soekarno- Hatta di Jalan Proklamasi dan Monumen Panca Sila Sakti di Lobang Buaya

Ketiga adalah ada bangunan berbentuk tugu disertai ornamen semisal lambang Garuda Panca Sila, atau deretan nama orang-orang yang berjasa yang ingin dikenang. Atau seperti Tugu Bambu Runcing, Tugu Keris di kedua ujung Jalan Diponegoro Pekanbaru, atau Tugu Songket di dekat Terminal Bus Antarkota-Antarprovinsi Pekanbaru. Pokonya terserah selera dan keinginan yang membuat, sesuai pula dukungan dana yang disediakan.

Sultan Syarif Kasim II


Jika pembangunan sebuah monumen didasarkan pada "tempat yang mempunyai nilai sejarah" (KBBI) dan "bangunan yang dibuat untuk memperingati sesorang atau peristiwa yang dianggap penting oleh suatu kelompok sosial sebagai bagian dari peringatan kejadian pada masa lalu" (Wikipedia), di Kota Siak Sri Indrapura (menurut saya) ada orang sekaligus peristiwa yang sangat penting dalam sejarah republik untuk dibangunkan sebuah monumen

Orang yang sangat patut dikenang itu, siapa lagi, kalau bukan sultan terakhir Kerajaan Siak Sri Indrapura, Sultan As-Sayyid Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin II atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sultan Sarif Kasim II. Namanya diabadikan menjadi nama Bandara Internasional di Ibukota Provinsi Riau dengan singkatan SSK II.

SSK II dinobatkan sebagai Sultan Siak ke 12 pada tahun 1915 dalam usia 21 tahun. Setelah kemerdekaan dia menetap di Jakarta. Barulah pada tahun 1960 kembali ke Siak Sri Indrapura. Sultan yang lahir di Siak pada 1 Desember 1893 itu wafat pada tahun 1968 dalam usia 75 tahun di Rumbai, Pekanbaru

SSK II yang memerintah Kerajaan Siak selama 30 tahun (1915-1945) memiliki dua orang permaisuri. Pertama Tengku Agung, kedua Tengku Maharatu. Dari kedua permaisuri itu Sultan tidak memiliki keturunan seorangpun. Istana tempat beliau bertahta, Istana Asseraiyah Hasyimiyah dibangun pada tahun 1889 saat Sultan Siak ke 11 Sultan Syarif Hasyim memerintah. Sultan Syarif Hasyim adalah ayahanda  SSK II. Istana itu kini menjadi objek wisata sejarah di riau, khususnya di Ibukota Kabupaten Siak Sri Indrapura.

Lalu mengapa dia, dan apa saja yang dia lakukan, sehingga amat layak diabadikan dalam bentuk sebuah monumen?

Sejarah jua yang memberi tahu kepada kita, bahwa ketika Tentara Jepang bertekuk lutut pada tanggal 15 Agustus 1945, karena Nagasaki dan Hirosima dihajar oleh bom atom oleh AU Amerika Serikat, sebagai seorang raja yang kembali berdulat, Raja Siak Sultan Syarif Kasim II memiliki paling tidak 3 (tiga) pilihan

Pertama, tetap mempertahankan Kerajaan Siak Sri Indrapura yang meliputi sebahagian besar wilayah Provinsi Riau yang sekaran, dimana dia tetap memegang tampuk kekuasaan kerajaan sebatgai Sultan yang bardaulat
 
Kedua, bergabung dengan Kerajaan Belanda. Belanda tentu dengan sangat senang hati akan menerimanya. Contoh, Irian Barat saja, yang bukan merupakan kerajaan yang berdaulat, saat itu tidak diserahkan oleh Belanda kepada Republik Indonesia

Ketiga, bergabung dengan Republik Indonesia. Konsekwensinya dia harus tunduk di bawah Soekarno dan Hatta sebagai Presiden Republik Indonesia. Konsekwensi lain, Kerajaan Siak Sri Indrapura yang meluputi sebahagian besar wilayah Riau yang sekrang, hanya akan menjadi sebuah provinsi

 Pilihan-pilihan yang amat tidak mudah bagi seorang raja yang selalu disembah dan sudah berkuasa selama puluhan tahun. Namun sebagai anak bangsa, dengan jiwa besar dan ketulusan yang amat mengharukan, saat Bung Karno dan Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Republik Indonesia, raja itu mengibarkan Sangsaka Merah Putih di depan Istana Siak Sriindrapura!

Lalu dia datang menemui Soekarno-Hatta di Jakarta, menyatakan tunduk dan bergabung dengan Republik Indonesia Di samping menyatakan bergabung bersama Republik, untuk membiayai perjuangan Republik yang saat itu masih sangat miskin, Sultan menyerahkan tahta, mahkota dan pedang yang terbuat dari emas murni. Lebih jauh dia juga menyerahkan kepada Republik uang kontan senilai 13 juta gulden. Kala itu (1945) uang tersebut setara dengan Rp1,074 Trilyun.
 
Semuanya dengan ihlas dan tulus diserahkan Sultan kepada Soekarno-Hatta untuk membiayai pemerintahan Republik Indonesia yang baru terbentuk, khusunya membiayai perjuangan kemerdekaan/revolusi.

Mengapa "Monumen Republik"?

Dengan argumentasi historis di atas, saya rasa 'lebih dari cukup' alasan untuk membangun monumen di Kota Siak Sri Indrapura guna mengenang jasa SSK II dan perbuatan heroiknya yang tulus menyerahkan tahta, mahkota, pedang emas dan harta kepada Republik di awal kemerdekaan

Mengenai naskah akademik terkait argumentasi heroik di atas, termasuk apa nama dan bagaimana bentuk monumen, saya rasa bisa diserahkan kepada para akademisi di perguruan tinggi. Kendati dibangun di Kota Siak, seyogianya prakarsa membangun diambil oleh DPRD dan Pemerintah Provinsi Riau. Pemkab dan DPRD Siak bisa membuat surat untuk mendesak DPRD dan Pemprov

Bangunan monumen, apapun bentuknya, hendaknya megah dan mendatangkan rasa bangga. Mengenai nama "Monumen Republik" dan apapun imbuhan sebelum dan sesudahnya, rasanya cukup pantas untuk menggambarkan heroisme dan jiwa kerepublikan Sultan Syarif Kasim II khususnya, masyarakat Kabupaten Siak dan Riau umumnya.

Pekanbaru, 20 Agustus 2015
*)Wartawan Senior, mantan
Komisioner KPU Riau/Pekanbaru.




 
TRANS OPINI
17/03/2019 | 18:53 Wib
NETRALITAS ASN PADA PEMILU 2019
Caleg Baru VS Incumbent
Waspadai "Perampokan Suara" dalam Pilkada
Tahun Baru Islam, Refleksi Umat Untuk Memperbaiki Keislaman
Setia Amanah untuk Andi Rachman
Pilkada Kota Pekanbaru 2017
SIAPA YANG BAKAL MENANG…??
Membangun Kemajuan Peradaban Islam Dengan Pendidikan Berkualitas Menuju Era Mea Di Perguruan Tinggi
Waspadai "Perampokan Suara" dalam Pilkada
 
Follow:
Pemprov Riau | Pemko Pekanbaru | Pemkab Siak | Pemkab Inhu | Pemkab Rohil | Pemkab Kampar | DPRD Rohil | DPRD Pekanbaru
Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
© 2015-2016 PT. Trans Media Riau, All Rights Reserved