www.transriau.com
05:13 WIB - Pemko Pekanbaru Terima Hibah Barang dari Kementerian PUPR | 05:08 WIB - DPP Golkar Akhirnya Usung Arsyadjuliandi Rachman-Suyatno di Pilgubri 2018 | 05:04 WIB - Sukses Kembangkan PAUD di Kabupaten Inhil, HM Wardan Terima Penghargaan Tingkat Nasional | 23:06 WIB - Bupati dan Forkopimda Tuntaskan Sengketa Ciliandra dengan Masyarakat | 22:39 WIB - Mantan Pimpinan KPK Minta dikembangkan Dugaan TPPU di Kasus Korupsi Novanto | 21:41 WIB - KPK Telisik Peran Isteri Novanto Terkait Saham Perusahaan Kasus e-KTP
  Selasa, 21 November 2017 | Jam Digital
Follow:
 
Tahun Baru Islam, Refleksi Umat Untuk Memperbaiki Keislaman
Kamis, 28/09/2017 - 03:38:40 WIB

Tepat pada tanggal 21 September 2017 lalu, umat Muslim merayakan tahun baru 1439 Hijriyah. Bagi umat Muslim ini adalah momen penting untuk refleksi diri merenungi dosa-dosa maupun kesalahan-kesalahan selama setahun lamanya

Perhitungan tahun dalam kalender Islam (Hijriyah) dimulai sejak kekhalifaan Umar bin Khattab. Keinginannya untuk menghitung tahun dalam kalender Islam seperti halnya Masehi muncul ketika Umar menerima surat dari Gubenurnya di Bashra.

Dalam surat tersebut tertulis "membalas surat tuan yang tak bertanggal" Hal itulah yang membuat Umar mengundang para sahabat dan beberapa ahli untuk berkumpul memusyawarahkan tentang tahun dalam kalender Islam.

Dalam perkumpulannya, terdapat perbedaan pendapat diantara para sahabat. Ada diantara mereka yang menginginkan permulaan tahun baru ketika baginda Rasul dilahirkan. Kita kenal tahun itu dengan aamul fiil

Sahabat lainnya berpendapat lebih baik dimulainya tahun baru Islam dihitung sejak baginda Rasul menerima wahyu pertama di gua Hira pada usia 40 tahunnya.

Ada juga yang berpendapat sebaiknya awal tahun baru Islam dihitung sejak baginda Rasul wafat dan sebagian yang lain berpendapat lebih baik dihitung sejak hijrahnya baginda Rasul dari Mekkah ke Madinah. Pendapat terakhir inilah yang akhirnya disepakati dalam perkumpulan tersebut.

Kesepakatan itu ternyata bukan tanpa makna. Hijrah mengandung pesan yang sangat luar biasa dan sarat akan pesan Illahi yang disampaikan kepada Rasulnya, hijrah disini bukan hanya berarti hijrah fisik, namun hijrah juga secara moral dan spritual. Hijrah adalah perubahan dari hal-hal negatif kepada positif. Hijrah juga perubahan dari moral hazard menuju akhlakul karimah seperti yang diajarkan oleh baginda Rasulullah.

Selain itu, momen tahun baru Islam datang sebagai tahun rekonstruksi bagi keberagamaan umat Muslim. Apakah masih berpegang kepada Al Quran dan Sunnah sebagai pedoman hidup atau malah telah jauh dari nilai-nilai yang terkandung di dalam keduanya? Disinilah penulis katakan pentingnya peringatan tahun baru Islam.

Belum lama ini, sebagian umat Muslim baru pulang dari menunaikan Ibadah Haji di tanah suci Mekkah. Sebuah kebahagiaan yang amat dalam ketika mereka telah mampu melaksanakan rukun Islam yang kelima itu.

Pergi ke tanah suci adalah sebuah impian setiap umat Muslim. Karena ibadah ini begitu istimewa di mata Allah Subahanahu wa Taala. Tak heran jika mulai dari petani, pedagang kaki lima, buruh, pegawai, pejabat, bahkan artis sinetron sekalipun berkompetisi untuk dapat menunaikan ibadah tersebut. Mereka begitu gigih ingin melaksanakannya.

Namun, melihat realita saat ini kita akan menghadapi sesuatu yang paradoks. Begitu banyak umat Muslim yang pergi haji namun setelah pulang dari Mekkah mereka tidak menunjukkan sedikitpun perubahan. Mereka yang semula ibadahnya kurang taat setelah pulang haji pun tetap seperti itu, yang semula tidak berhijab juga tetap tidak berhijab.

Begitu pula yang semula acuh dengan sesama, setelah menjadi haji juga masih demikian. Masih banyak ketimpangan-ketimpangan yang kita temukan dari orang-orang yang selesai menunaikan ibadah haji. Kalau sudah begini, siapa yang salah? Apakah Allah berbohong kepada kita bahwa kalau kita melakukan ibadah haji maka hidup kita akan lebih baik?

Itulah salah satu contoh yang layak menjadi bahan refleksi diri kita. Satu hal yang mampu kita jawab, bahwa semua itu bukan salah Allah, akan tetapi salah kita sendiri. Allah tidak mungkin berbohong sebab Ia tidak punya sifat dusta. Allah adalah Maha Benar.

Fenomena seperti saat ini memang sedang menjalar. Bukan saja di kalangan orang-orang yang melaksanakan ibadah haji, tetapi di kalangan umat Muslim umumnya. Saat ini orang lebih senang melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya tanpa mau peduli dengan orang lain.

Termasuk dalam urusan ibadah. Maka ketika ada tetangga yang kelaparan misalnya mereka tak peduli. Mereka malah menyibukkan diri dengan ibadah bagi dirinya sendiri seperti ritual dzikir yang dilaksanakan dengan menyepi (menjauh dari kehidupan masyarakat), termasuk juga ibadah haji. Giliran mereka yang mau membantu sesamanya malah dilakukan demi mencari simpati dan dukungan. Itulah realita di masa kini.

Momen tahun baru Hijriyah ini, semoga mampu menjadi refleksi bagi umat Islam untuk memperbaiki keislamannya. Setidaknya, umat Islam mampu menjadikan Islam sebagai kepribadiannya, bukan sekedar simbol. Apalagi untuk melegitimasi kebenaran. Meskipun umat Islam harus terasing dari dunia umumya.

Bukan berarti terasing dari lingkungan, tetapi terasing dari pandangan hidup kapitalisme. Umat Islam tak perlu khawatir akan keselamatannya. Bukankah Rasul pernah bersabda bahwa Islam datang dari sebuah realitas yang asing dan akan pergi dalam keadaan asing pula. Itu berarti bahwa orang yang berpegang teguh kepada Islam dianggap asing oleh realita. Meskipun itu menyakitkan tetapi itu harus dihadapi.

Semoga tahun baru Hijriyah ini, umat Islam dapat menemukan nilai-nilai Islam yang sesungguhnya agar mampu menjadi generasi Islam yang berkualitas. *




#Pekanbaru, 28 September 2017

Oleh : Herikson Rosxli
Bendahara Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Disaint Cabang Pekanbaru





 
TRANS OPINI
Tahun Baru Islam, Refleksi Umat Untuk Memperbaiki Keislaman
Setia Amanah untuk Andi Rachman
Pilkada Kota Pekanbaru 2017
SIAPA YANG BAKAL MENANG…??
Membangun Kemajuan Peradaban Islam Dengan Pendidikan Berkualitas Menuju Era Mea Di Perguruan Tinggi
Waspadai "Perampokan Suara" dalam Pilkada
Oleh: Nabila Fitri
Syiar Baitullah, Penyiar Radio Ini Bisa Umroh Gratis dan Raih Income Puluhan Juta Rupiah
Oleh : Herman (Mahasiswa UMRI)
Perlunya Komunikasi dalam Suatu Organisasi
Oleh: Makmur Hendrik
Komunisme: Indonesia Seperti Amnesia Atas Sejarah
 
Follow:
Pemprov Riau | Pemko Pekanbaru | Pemkab Siak | Pemkab Inhu | Pemkab Rohil | Pemkab Kampar | DPRD Rohil | DPRD Pekanbaru
Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
© 2015-2016 PT. Trans Media Riau, All Rights Reserved